TULISAN
1.Pengertian/Teoritis
Teoritis merupakan pikiran atau pola pikir yang
mendasarkan semuanya dari teori-teori yang ada sebagai landasan tindakannya.
Menjadikan sebuah atau beberapa teori sekaligus yang punya keterkaitan sebagai
landasan berfikir dan bersikap dalam menyingkapi atau menghadapi masalah.
2.adat
istiadat yang berbeda jelaskan
Yang dimaksud dengan
Adat Istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu negeri yang mengikuti pasang
naik dan pasang surut situasi masyarakat. Kelaziman ini pada umumnya menyangkut
pengejawatahan unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara keramaian
anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka
kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan
penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.
Adat istiadat semacam
ini sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang
panen baik biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan
sebaliknya. Adat adalah gagasan kebudayaan yang
terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum
adat yang
lazim dilakukan di suatu daerah
1.RUMAH ADAT
Rumah tinggal orang
Jawa menjadi lebih sempurna bentuknya dibandingkan pada bentukan sebelumnya.
Bentuk sebelumnya sangat sederhana seperti bentuk bangunan “panggangpe”,
“kampung” dan “limasan”. Bangunan yang lebih sempurna secara structural adalah
bangunan tradisional bentuk “Joglo”. Bangunan ini secara umum mempunyai denah
berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya
yang kita sebut sebagai “saka guru’. Saka guru berfungsi untuk menopang blandar
“tumpang sari” yang bersusun keatas semakin keatas semakin melebar dan biasanya
berjumlah ganjil serta diukir. Ukiran pada tumpang sari ini menandakan status
sosial pemiliknya. Untuk mengunci struktur saka guru diberikan “sunduk” yang
disebut sebagai “koloran” atau “kendhit”. Letak koloran ini terdapat di bawah
tumpang sari yang berfungsi mengunci dan menghubungkan ke empat “saka guru”
menjadi satu kesatuan. Tumpang sari berfungsi sebagai tumpuan kayu usuk untuk
menahan struktur “brunjung dan molo serta usuk yang memanjang sampai tiang
“emper” bangunan Joglo. Dalam perkembangannya. Bangunan Joglo ini memiliki
banyak variasi perubahan penambahan-penambahan struktur yang semakin mempercantik
Rumah adat ini.
Beberapa variasi
bangunan “joglo” ini antara lain :
1. Rumah Adat
tradisional Joglo limasan lawakan atau sering disebut “joglo lawakan”
2. Rumah Adat
tradisional Joglo Sinom
3. Rumah Adat
tradisional Joglo Jompongan
4. Rumah Adat tradisional Joglo
Pangrawit
5. Rumah Adat
tradisional Joglo Mangkurat
6. Rumah Adat
tradisional Joglo Hageng
7. Rumah Adat
tradisional Joglo Semar Tinandhu
2.ALAT MUSIK
Gamelan
Gamelan adalah ensembel
musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang,
gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya,
yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama.
Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawagamel yang berarti memukul /
menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda
Gambar gamelan Gending
Bonang(solo)
3. SENI TARI
Solo memiliki beberapa
tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi
(Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan
Keraton Solo.
Ø Tari
Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang
adalah sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya digelar dalam setahun
sekali. Konon di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda
penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.
Perbendaharaan beksan
(tarian) tradisi keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari berbagai ragam.
Dilihat dari fungsinya, tarian itu bisa dibagi dalam 3 macam. Yaitu tari yang
punya sifat magis religius, tari yang menggambarkan peperangan, dan tari yang
mengandung cerita (drama).
Masing-masing tari
tercipta karena ada sejarahnya yang dipengaruhi oleh suasana saat itu. Berbagai
macam jenis tari yang diciptakan oleh pengramu keraton bukan asal buat,
melainkan dipadu dengan masukan dari kalangan lelembut yang punya hubungan baik
dengan keluarga keraton. Sehingga ada muatan mistis dan gaib. Tari yang punya
sifat magis-religius ini, seperti Bedhaya biasanya diperagakan oleh kaum putri
yang berjumlah 7 atau 9 orang, sedang yang diperagakan oleh 4 putri biasa
disebut Tari Srimpi.
4. RAGAM HIAS
BATIK SOLO
Batik Solo atau
Surakarta dikenal dengan motif sogan (coklat) di atas kain berwarna kuning
pucat. Solo merupakan daerah dengan tradisi adat istiadat keraton yang kuat dan
dahulu merupakan pusat kebudayaan Hindu Jawa. Hal tersebut mempengaruhi seni
batik di Solo. Ragam hiasnya seperti meru, Naga dan burung bersifat simbolis,
diterapkan pada kain sesuai artinya dalam falsafah Hindu Jawa. Ragam hias atau
motif tersebut diciptakan bukan saja untuk keindahan, tapi juga dengan pesan
dan harapan yang tulus akan kebaikan dan kebahagian bagi pemakainya.
Batik solo umumnya
mengikuti tata cara atau peraturan yang antara lain menyangkut kedudukan sosial
si pemakai dan untuk acara atau peristiwa apa batik tersebut digunakan agar
sesuai dengan arti dan harapan yang terkandung dalam ragam hias tersebut.
Berikut adalah beberapa
contoh makna dalam batik dari daerah Solo sesuai yang diungkapkan Nian S.
Djoemena dalam bukunya "Ungkapan Sehelai Batik" :
a. Ragam hias slobog
yang berarti agak besar, longgar atau lancar, dipakai untuk melayat, dengan
harapan arwah yang meninggal diterima Tuhan YME tanpa kesukaran dan keluarganya
penuh kesabaran. Motif ini juga kadang digunakan pamong dengan harapan semua
tugasnya berjalan lancar.
b. Motif parang rusak
barong, sawat dan kawung yang termasuk motif-motif Larangan dianggap sakral,
karenanya dulu hanya boleh digunakan oleh raja-raja serta keluarga dekatnya.
Walau motif ini telah menjadi milik masyarakat namun tata cara pemakaiannya
masih diperhatikan dalam upacara adat resmi di kalangan keraton.
c. Motif satria manah
digunakan oleh wali pria saat meminang, karena satria memanah tentunya selalu
mengenai sasarannya, sehingga makna pemakaian motif ini adalah sebagai harapan
lamaran sang pria diterima dengan baik oleh pihak wanita. Sementara dalam acara
lamaran ini pihak wanita biasanya mengenakan ragam hias semen rante, dimana
rante yang berarti rantai yang bermakna ikatan yang kokoh dan kuat. Ini
dianggap sebagai keinginan pihak wanita agar hubungan mereka tidak terputus,
kokoh dan kuat.
d. Motif madu bronto
diserahkan sang pria pada acara seserahan untuk menyatakan isi hati serta
perasaannya, dimana bronto berarti asmara, sehingga dapat diartikan asmara yang
manis bagaimadu.
e. Ragam hias parang kusuma dikenakan si gadis pada acara tukar cincin atau pertunangan, dimana kusuma berarti bunga yang telah mekar. Masih dalam acara yang sama ibu si gadis mengenakan batik motif pamilito yang berasal dari kata pulut atau ketan yang lengket, bermakna harapan ibu agar pasangan tersebut tidak terpisahkan lagi. Atau orang tua juga bisa mengenakan motif sekar jagad, sekar berarti kembang, sedangkan Jagad berarti alam semesta, yang melambangkan hati yang gembira karena putri atau putranya telah mendapat jodoh.
e. Ragam hias parang kusuma dikenakan si gadis pada acara tukar cincin atau pertunangan, dimana kusuma berarti bunga yang telah mekar. Masih dalam acara yang sama ibu si gadis mengenakan batik motif pamilito yang berasal dari kata pulut atau ketan yang lengket, bermakna harapan ibu agar pasangan tersebut tidak terpisahkan lagi. Atau orang tua juga bisa mengenakan motif sekar jagad, sekar berarti kembang, sedangkan Jagad berarti alam semesta, yang melambangkan hati yang gembira karena putri atau putranya telah mendapat jodoh.
f. Pada acara siraman
calon pengantin wanita mengenakan kain cita kembang atau polos, sedangkan orang
tuanya mengenakan batik dengan motif cakar yang bermakna harapan akancalon
penganti mampu berdikari.
g. Pada malam
midodareni, calon penganti wanita dengan kain cita kembang atau polos,
sedangkan orang tuanya mengenakan kain batik denagn ragam hias bondet, kata
yang berasal dari kata bundet yang berarti saling mengikat menjadi satu,
tentunya merupakan harapan terhadap pernikahan putrinya.
h. Ragam hias sido
mukti, digunakan pengantin pria dan wanita dalam upacara perkawinan, karena
Sido berarti terus menerus, sedangkan mukti berarti hidup bahagia dan
berkecukupan. Ragam hias lain yang juga digunakan sepasang pengantin adalah
sido asih yang bermakna agar hidup berumah tangga dalam kasih sayang, sido
mulyo dimana mulya berarti mulia, dan sido luhur, dimana luhur berarti berbudi
luhur. Masih untuk kehidupan perkawinan ada motif ratu ratih dan semen rama
yang melambangkan kesetiaan seorang istri.
i. Sedangkan orang tua
pengantin dalam upacara perkawinan menggunakan motif truntum yang artinya
menuntun, dengan makna orang tua berniat menuntun kedua mempelai memasuki hidup
baru berumah tangga. Ada juga motif sido wirasat, wirasat berarti nasihat,
dengan makna orang tua akan memberi nasihat pada mempelai dalam menjalani hidup
barunya.
j. Selesai upacara
pernikahan, pasangan pengantin mengenakan kain batik dengan motif semen gendong
yang merupakan perlambang harapan akan lekas dapat menggendong bayi. Ada juga
motif babon angrem yang merupakan simbol ayam betina mengeram, yang bermakna
harapan sang pengantin lekas mengandung.
k. Ragam hias truntum
juga memiliki makna cinta yang bersemi, dan ada sebuah kisah yang
melatarbelakangi kisah ini. Kisah tersebut adalah tentang sang ratu yang sedih
karena merasa dilupakan sang raja yang memiliki kekasih baru, untuk melupakan
kesedihannya sang ratu membatik dan secara tidak sadar membuat ragam hias
berbentuk bintang-bintang di langit yang kelam yang menemaninya dalam kesepian.
Ketekunan Sang Ratu menarik perhatian sang raja, dan kemudian raja terus
mengikuti perkembangan pembatikan sang ratu, sehingga sedikit demi sedikit
cinta dan kasih sayang sang raja kepada sang ratu bersemi kembali atau tum-tum
kembali.
l. Ragam hias
alas-alasan berarti hutan adalah lambang kesuburan atau kemakmuran. Motif ini
biasanya digunakan pada upacara adat dan acara resmi.
m. Ragam hias pari
seuli yang berarti padi setangkai, yang bermakna harapan si pemakai mendapat
limpahan rejeki serta makmur.
Di samping batik-batik
bermotif simbolik tersebut di atas, Solo juga memiliki ragam hias yang bersifat
naturalistik mengambil motif tentang alam pedesaan, seperti sekar suruh atau
kembang sirih, dan Piring Sedapur yang berarti bambu serumpun.
Kain batik Cina di
daerah Solo mempunyai gaya ragam hias tersendiri, umumnya menggunakan ragam
hias buketan dengan pinggiran hiasan kembang dengan latar motif parang atau
kawung dengan dasar putih kecoklatan
5. KESENIAN
LAGU KERONCONG
Keroncong merupakan
nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan
juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang
menggunakan instrumen musik keroncong, flute,
dan seorang penyanyi wanita.
Banyak penyanyi lagu
daerah asal kota solo yang namanya sangat terkenal diantanya Gesang dengan
lagunya yg berjudul Bengawan Solo dan Waljinah dengan lagu Walang Keke
6. PAKAIAN DAERAH
Jenis busana dan kelengkapannya
yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya
Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dankain tapih
pinjung dengan stagen.
Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat
biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada
busana upacara seperti yang dipakai oleh seoranggarwo
dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti
renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak
batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan
perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas
biasanya tidak ketinggalan. Untuk busana sehari-hari umumnya
wanita Jawa cukup memakaikemben yang
dipadukan dengan stagen dan kain jarik.
Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben
ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagendililitkan
pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah
lepas.
7. BENDA SENI/ KARYA
SENI
KERIS
Keris adalah
senjata tikam golongan belati (berujung
runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang
dikenal di kawasanNusantara bagian barat dan
tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena
tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya
berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene),
yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang
memiliki kemiripan dengan keris ad
Penggunaan keris
tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit,
seperti Jawa, Madura, Nusa
Tenggara, Sumatera,
pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan,
dan Filipina Selatan
(Mindanao).
Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki
kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta
peristilahan.
Keris Indonesia telah
terdaftar di UNESCO sebagai Warisan
Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia sejak alah badik.
Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit.
Pada masa lalu keris
berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan sekaligus sebagai benda
pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan
benda aksesori (ageman)
dalam berbusana,
memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari
segi estetikanya.
2005.
3.Hasil
Budaya Secara Fisik
1. Nasi Liwet Nasi
Naso
liwet adalah makanan khas yang terdiri dari nasi gurih dengan sayuran Jipang,
daging ayam, telur, santan kental (kumut), opor, dan berbagai bahan lainnya
yang disajikan dengan alas daun pisang dengan sedikit ditekuk dan disematkan
lidi supaya berbentuk kerucut(istilahnya disebut pincukan).
Tempat
: Nasi Liwet Wongso Lemu yang tempatnya di Keprabon, Jalan Teuku Umar, (dekat
dengan Kraton Mangkunegaran). Warung Nasi liwet Wongso Lemu ini buka pada sore
jam 4an sampai jam 2 malam.
2.
Gudeg Ceker
Gudeg
ceker adalah makanan khas yang terdiri dari nangka muda, krecek (kulit sapi),
telur, daging ayam dan cakar ayam (ceker). Gudeg ceker yang terkenal di Solo
adalah Gudeg Ceker Bu Kasno yang tempatnya di pinggir jalan (trotoar) di daerah
Margoyudan (dekat dengan SMA 1 Solo, kalau dari Stasiun Solo Balapan ke arah
timur).
Gudeg
Ceker Bu Kasno buka pada malam hari sekitar jam 1 malam sampai pagi jam 5an.
3.
Pecel
Pecel adalah makanan yang terdiri dari berbagai sayuran mulai
dari bayam, jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi, kacang panjang,
dll, yang diberi sambal kacang.
Salah
satu warung pecel/ rumah makan pecel terkenal adalah Pecel Solo di Jl Dr Supomo
No 55, Pasar Mbeling, Mangkubumen, Solo
4.
Sate (sate buntel)
Sate
buntel adalah Sate khas Solo yang dibuat dari daging kambing cincang yang
dibungkus lemak kambing baru kemudian dibakar sehingga disebut sate buntel.
Buntel adalah bahasa jawa untuk bungkus. Sate buntel yang terkenal di Solo
adalah Sate Haji Bejo di Jl. Sebakung 10 Lojiwetan, tepatnya di belakang
swalayan Luwes Sangkrah, di seberang GKI Sangkrah. Warung sate lainnya yang
juga terkenal antara lain Sate Kambing Tambak Segaran di Jl. Sutan Syahrir No
39 Widuran dan Sate Kambing Mbok Galak di Jl. Ki Mangunsarkoro Sumber,
Banyuanyar, Solo.
5.Tengkleng
Tengkleng adalah
makanan olahan dengan bahan dasar daging kambing dan cenderung lebih banyak
berisi tulang tulang kambing yang memiliki sedikit daging yang menempel pada
tulang tersebut, jerohan kambing, mata, pipi, kuping, dll yang diolah seperti
gulai (berkuah kental) dan bumbunya sangat terasa. Tengkleng yang terkenal di
Solo adalah tengkleng Bu Ediyem di Pasar Klewer Solo. Lokasinya di samping
Gapura Pasar Klewer
6. Timlo
Timlo
adalah makanan khas Solo yang isinya potongan-potongan daging ayam, jerohan
ayam seperti ati ampela, potongan-potongan sosis solo, telur ayam pindang,
dengan kuah mirip dengan sop dan di atasnya ditaburi bawang goreng. Biasanya
timlo disajikan bersama dengan seporsi nasi hangat.
Timlo
yang terkenal di Solo adalah Timlo Sastro yang tempatnya di belakang Pasar
Gedhe Solo
7.
Soto
Soto
yang terkenal di Solo antara lain Soto Triwindu yang terletak di Pasar Barang
Antik Triwindu. (dekat dengan Kraton Mangkunegaran) dan Soto Kirana di Jl. M
Yamin (tepatnya di depan Masjid Kawasan) Solo, serta Soto Gading di daerah
Gading, sebelah selatan Keraton Kasunanan Surakarta.
8.
Bakso Solo dan sekitarnya
Bakso solo adalah asal dari bermacam-macam bakso yang
tersebar di berbagai wilayah di Indonesia saat ini. Nah kalo berkunjung di
Solo, maka sempatkan juga makan bakso yang merupakan asal dari bermacam-macam
bakso di kota-kota Indonesia itu.
Bakso
yang terkenal di Solo antara lain Bakso Urat Alex di Jalan Honggowongso, depan
Novotel Solo
9.
Mie Ayam
Warung
Mie yang terkenal di Solo salah satunya adalah Mie Gajah Mas yang terletak di
sebelah barat Pasar Gede (dekat dengan Bank BNI). Lokasinya tepat di samping
kali pepe. Menu yang ada di sana antara lain mie bakso, bakso kuah, mie ayam
jamur, mie pangsit, kwetiau, pangsit goreng, dll.
Mie
Gajah Mas buka mulai 9 pagi sampai jam 9an malam dan selalu ramai setiap
harinya.
10. Tahu Kupat
Tahu
Kupat merupakan makanan yang terdiri dari ketupat, mie basah, taoge/kecambah,
tahu goreng hangat, bakwan goreng yang dipotong-potong, dan taburan kacang
goreng. Semua bahan tersebut disajikan dengan bumbu kecap manis encer dengan
rasa bawang yang pas dan bawang goreng. Biasanya juga kalau makan tahu kupat
ini bisa ditambah dengan telur dadar dan ditemani kerupuk sehingga lebih
mantap.
Tahu
kupat yang terkenal di Solo adalah Tahu kupat Sholihin di Jalan Jl. Gajah Mada.
Lokasinya disamping Masjid Sholihin. (dekat dengan Stasiun Solo balapan ke arah
hotel Sahid)
11.
Serabi atau srabi Notosuman Serabi
srabi
sebenarnya adalah semacam pancake yang bahan adonannya terdiri dari tepung
beras, santan, gula, garam, dan daun pandan sebagai pewangi, dan bahan lainnya
yang kemudian dipanaskan dalam suatu cetakan berupa wajan kecil yang kemudian
ditutup dengan penutup dari tanah liat supaya serabi mekar. Srabi memiliki
tekstur kenyal namun tetap lembut dan rasanya sangat legit.
12. Bebek Goreng
Bebek
goreng yang terkenal di Solo dan sekitarnya adalah bebek Goreng H Slamet di
Kartosuro. Alamat lengkapnya untuk yang induk utama (bukan cabang) berada di
Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro. Seperti bebek goreng diberbagai tempat,
bebek goreng di sana disajikan bersama dengan lalapan dan sambel.
Bedanya
adalah sambel yang digunakan di bebek goreng H Slamet ini menggunakan sambel
korek yang diletakkan pada cobek dari tanah liat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar