TULISAN II
1.lagu payung teduh untuk perempuan yang sedang dalam pelukan
Syair
Tak
terasa gelap pun jatuh Di ujung malam
menuju pagi yang dingin
Hanya
ada sedikit bintang malam ini
Mungkin
karena kau sedang cantik-cantiknya
Lalu mataku merasa malu
Lalu mataku merasa malu
Semakin
dalam ia malu kali ini
Kadang
juga ia takut
Tatkala
harus berpapasan ditengah pelariannya
Di malam hari
Di malam hari
Menuju
pagi
Sedikit
cemas
Banyak
rindunya
2. cerpen hubungan manusia dan keindahan
OH, BUNDA!
oleh: Alief Murobby
Rintik-rintik
hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi
menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor
mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas
hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati
Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan udara
dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya
menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara
keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan
orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari
motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava
kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.
***
"Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?" Tanya
Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang
dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung
berubah. Gelisah. "Bunda cuma dapet segini, Le," ucap Bunda
seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi mencatat semuanya. Ava agak
kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit. "Bunda
ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma
segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup. "Nada suara Ava
mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai
tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin. "Tapi
Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris,
uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga
bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir, "ucap Bunda
dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu,
berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya,
lalu berteriak marah. "Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo
besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!
"Bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari
kamarnya. "Kakak apa-apaan sih?" tanya Nina. Ava
menjawabnya dengan ketus, "Diem kamu, anak kecil!" "Kakak
tuh yang diem!" Emosi Nina ikut tersulut. "Bicara sama orangtua
tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka! " Plak! Sebuah
tamparan melayang ke pipi Nina. "Jaga mulutmu!" teriak Ava.
"Kakak tuh yang jaga mulut!" Nina langsung membalas sambil memegangi
pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang
di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk putrinya. Dia juga
mulai menangis. "Udah, udah. Jangan berantem, "kata Bunda
lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang
Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang. "Astaghfirullah." Tak
terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu
ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di
salah satu bangku yang kosong, tepat di bawah pohon mahoni untuk mengeringkan
pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih
mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik
mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun
tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang biola jalanan duduk
disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka. "Mau
request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu, "tawar si biola. Ava
merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu
pada si biola. "Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya
ambil aja. " Si biola langsung bersiap mengambil nada awal. Saat
biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak
disangka, biola itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar,
Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.
Kata
mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Kata mereka diriku slalu ditimang
Air mata Ava keluar tanpa bisa ditahannya. Ia terus menangis sampai si
violin selesai membawakan lagunya. "Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe, "canda si biola. "Mas sih enak masih punya motor," lanjutnya. "Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana. " Violin itu terdiam sejenak. "Tapi meskipun gitu, saya
tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur
masih bisa hidup. " kata pengamen itu membuat Ava
tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah
payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar
adik satu-satunya. Violin itu berkata lagi,
"Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata, 'Untuk urusan
dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, agar kita
bersyukur sudah diberi nikmat lebih dari orang lain. ' Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang? "Tanyanya begitu
melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke
rumah. Ke pelukan bunda. Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. "Apa aku salah bicara, ya?" Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan,
dilihatnya sang Bunda sedang duduk di balkon. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak
mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya. "Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.
"Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung
emas. Bunda tersenyum lagi. "Nanti kalung ini akan
Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua. " Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat
durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan
ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi
ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil
memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama
meninggal. "Bunda, pokoknya jangan pernah menjual
kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari
sendiri. "Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung. "Lho kok ..." Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk
bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat. "Maafin Ava, Bunda," ucap Ava lirih, lalu ia menangis
dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil,
lalu berujar sambil mengelus kepala Ava. "Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus. "Ava melepaskan diri dari sang bunda,
lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya. "Maafin
kakak, ya?" Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu
tersenyum. "Apologies accepted," jawab Nina,
memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam
pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan
sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi
membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka,
apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat
menghentikannya. Tak ada!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar